Sahabat SMAIM, beberapa hari terakhir, rumah kita, tanah Kalimantan Timur, seperti sedang mengirimkan pesan yang tidak ditulis dengan tinta. Pesan itu hadir melalui tanah yang mengering, hari-hari tanpa hujan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta asap yang mengingatkan kita bahwa alam tidak selalu berada dalam keadaan baik-baik saja.
Pada pertengahan September 2026, sejumlah wilayah di Kalimantan Timur masih menghadapi karhutla. Pada saat yang sama, BMKG mencatat periode tanpa hujan yang cukup panjang di sejumlah wilayah. Persoalan lingkungan pun terasa dekat: hadir dalam udara yang kita hirup, air yang kita gunakan, aktivitas masyarakat, dan kekhawatiran tentang kondisi lingkungan yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Namun, di tengah semua itu, ada pertanyaan yang barangkali lebih penting daripada sekadar kapan api padam atau kapan hujan turun: apakah kita hanya akan melihat semua ini sebagai peristiwa alam yang harus segera ditanggulangi, atau bersedia menjadikannya sebagai ruang untuk bercermin?
Alam bukan sekadar latar tempat manusia menjalani kehidupan. Alam adalah bagian dari kehidupan itu sendiri. Ketika hutan terbakar, sungai tercemar, tanah kehilangan daya dukung, atau air semakin sulit diperoleh, yang dipertaruhkan bukan hanya kondisi lingkungan, tetapi juga kehidupan manusia.
Ketika Alam Tidak Lagi Sekadar Latar Kehidupan
Kita terbiasa menyebut banjir, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan, dan berbagai peristiwa lainnya sebagai bencana alam. Namun, berbagai fenomena dan bencana tidak seluruhnya dapat dipahami semata-mata sebagai peristiwa alamiah. Ada yang dipengaruhi kondisi alam dan iklim, ada pula yang diperburuk aktivitas manusia; dalam banyak persoalan lingkungan, keduanya saling berkelindan.
Kondisi cuaca yang kering dapat meningkatkan risiko kebakaran. Namun, cara manusia mengelola lahan, menjaga hutan, menggunakan sumber daya, dan memperlakukan lingkungan juga menentukan seberapa besar kerusakan yang kemudian terjadi. Karena itu, persoalan ekologis tidak cukup dibaca dari satu sisi.
Kita membutuhkan ilmu untuk memahami faktor alamiah, kebijakan untuk mengelolanya, dan teknologi untuk menanggulanginya. Tetapi kita juga membutuhkan kesadaran moral untuk bertanya: bagaimana selama ini manusia memperlakukan alam? Ketika eksploitasi dilakukan tanpa mempertimbangkan keberlanjutan, kelalaian mengabaikan keseimbangan ekosistem, atau keserakahan membuat manusia mengambil lebih banyak daripada yang seharusnya, konsekuensi ekologis dapat muncul dan kembali dirasakan manusia.
Persoalan lingkungan, dengan demikian, perlu dibaca bukan hanya sebagai sesuatu yang harus ditanggulangi, tetapi juga sebagai momentum untuk mengevaluasi kembali hubungan manusia dengan alam.
Al-Qur'an Mengajak Kita Bercermin
Allah berfirman:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini menyebut kerusakan, perbuatan manusia, dan akibat yang dirasakan. Tetapi ayat tersebut tidak berhenti pada kerusakan. Ia ditutup dengan kalimat: لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ — “agar mereka kembali.” Barangkali inilah kata yang perlu kita renungkan lebih lama. Kerusakan lingkungan semestinya tidak hanya membuat kita bertanya bagaimana memperbaikinya, tetapi juga apa yang harus kita ubah agar kerusakan tidak terus berulang.
Bukan Vonis, Melainkan Cermin
Ayat tersebut tidak semestinya digunakan secara serampangan untuk mengatakan bahwa setiap kebakaran, kekeringan, banjir, atau bencana tertentu pasti merupakan hukuman Allah atas dosa manusia tertentu. Kita tidak memiliki pengetahuan untuk memastikan hal tersebut. Dalam konteks Kalimantan Timur, faktor cuaca dan kondisi kering merupakan bagian penting dalam memahami meningkatnya risiko karhutla; karena itu, penjelasan ilmiah tetap diperlukan.
Namun, kehati-hatian dalam menjelaskan sebab bencana tidak berarti kita kehilangan ruang untuk introspeksi. Ilmu dan wahyu dapat berjalan beriringan. Sains membantu kita memahami apa yang terjadi; ilmu lingkungan menjelaskan prosesnya; kebijakan membantu menentukan tindakan; sementara wahyu mengajak kita bertanya bagaimana seharusnya manusia bersikap.
Maka QS Ar-Rum: 41 tidak perlu kita jadikan vonis. Jadikan ia cermin untuk melihat hubungan manusia dengan alam, mempertanyakan apakah kemajuan harus selalu dibayar dengan kerusakan, dan bertanya apakah sumber daya alam hanya sesuatu yang boleh diambil, digunakan, lalu ditinggalkan.
Tentang “Tangan Manusia”
Ada bagian ayat yang menarik untuk direnungkan: بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ — “disebabkan oleh apa yang diperbuat oleh tangan manusia.” Manusia adalah makhluk yang bertindak. Dengan tangannya manusia membangun, menebang, mengolah, mengambil, tetapi dengan tangannya pula manusia dapat menjaga dan memperbaiki.
Karena itu, persoalan lingkungan tidak hanya berbicara tentang alam, tetapi juga tentang manusia dan pilihan-pilihannya. Persoalannya bukan apakah manusia boleh memanfaatkan alam, melainkan bagaimana manusia memanfaatkannya: dengan kebijaksanaan atau keserakahan; dengan mempertimbangkan keberlanjutan atau hanya mengejar keuntungan sesaat. Di sinilah muhasabah ekologi menjadi penting.
Lalu, Apa Arti “Kembali”?
“Kembali” berarti kembali kepada Allah; menyadari bahwa bumi bukan milik manusia secara mutlak. Kembali kepada kesadaran; memahami bahwa tindakan manusia memiliki konsekuensi. Kembali kepada tanggung jawab; menyadari bahwa menjaga alam bukan hanya pekerjaan pemerintah, petugas, atau aktivis lingkungan. Dan kembali kepada tindakan; sebab kesadaran tanpa perubahan perilaku hanya menjadi keprihatinan yang cepat berlalu.
Kita Membutuhkan Lebih dari Sekadar Pemadam Api
Ketika kebakaran terjadi, kita membutuhkan pemadam, patroli, teknologi, pemantauan, penegakan hukum, dan kebijakan lingkungan yang kuat. Semua itu penting. Tetapi kita juga membutuhkan manusia yang tidak terus-menerus menciptakan kondisi yang membuat kerusakan mudah terjadi dan berulang.
Memadamkan api adalah tindakan darurat. Mencegah api terus berulang adalah persoalan yang lebih besar: bagaimana manusia mengelola lahan, menjaga hutan, menggunakan sumber daya, dan menentukan batas antara kebutuhan dengan keserakahan. Karena itu, mungkin kita perlu mengubah pertanyaan: bukan hanya “Berapa banyak yang bisa kita ambil dari alam?”, tetapi juga “Berapa banyak yang bisa kita kembalikan kepada alam?”
Kalimantan Timur sebagai Ruang Muhasabah
Kalimantan Timur bukan sekadar wilayah yang sedang menghadapi musim kering dan karhutla. Ia adalah rumah bagi manusia, hutan, sungai, berbagai makhluk hidup, dan generasi yang akan datang. Karena itu, persoalan lingkungan jangan hanya menjadi berita yang kita baca beberapa hari lalu kita lupakan ketika asap menghilang.
Di sinilah pendidikan memiliki peran. Anak-anak kita perlu belajar bahwa alam bukan hanya materi dalam buku, tetapi bagian dari kehidupan yang harus dijaga. Mereka perlu tumbuh bukan hanya menjadi manusia yang mampu memanfaatkan alam, tetapi manusia yang bertanggung jawab terhadapnya. Masa depan lingkungan bukan hanya ditentukan teknologi yang kita miliki, tetapi juga karakter manusia yang menggunakannya.
Sebuah Ajakan untuk Kembali
Mungkin inilah saatnya kita berhenti sejenak. Bukan untuk mencari siapa yang paling bersalah, melainkan untuk bertanya kepada diri sendiri: apa yang selama ini telah kita lakukan terhadap bumi yang kita tinggali? Muhasabah dimulai ketika kita berani menunjuk diri sendiri.
Asap akan hilang. Api akan padam. Hujan, pada waktunya, akan turun. Tetapi setelah semuanya berlalu, ada satu pertanyaan yang lebih penting: apakah kita akan kembali seperti semula? Jika semua yang terjadi membuat kita berhenti, berpikir, memperbaiki kebijakan, mengubah perilaku, dan kembali mengingat tanggung jawab kepada Allah, mungkin di situlah persoalan lingkungan menjadi pelajaran bagi manusia.
Bukan karena kita menganggap setiap bencana sebagai hukuman, tetapi karena kita bersedia menjadikan setiap kerusakan sebagai peringatan untuk memperbaiki diri.
لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Agar mereka kembali.”
Kembali kepada Allah. Kembali kepada kesadaran. Kembali kepada tanggung jawab. Kembali kepada keseimbangan. Dan kembali menjadi manusia yang tidak hanya bertanya apa yang bisa diperoleh dari bumi, tetapi juga apa yang harus dijaga untuk bumi dan generasi setelah kita.
Kalimantan Timur mungkin sedang mengirimkan pesan melalui asap, kekeringan, hutan yang terbakar, dan tanah yang menunggu hujan. Pertanyaannya bukan lagi apakah kita melihatnya. Pertanyaannya: apakah kita mau mendengarnya?
Oleh : Muhammad Reza Ardhana, S.Pd
Komentar Pembaca
Tanggapan dan diskusi publik untuk berita ini (0 komentar)
Belum Ada Komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan atau komentar untuk berita ini!
Tinggalkan Komentar Anda
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan secara umum.